0 0
Read Time:7 Minute, 0 Second

Rasa takut yang membekas telah diucapkan tepat di telinga.

Seakan beban, kamu membawanya kian kemari dengan peluh…

Tidak usah terburu-buru, dan kamu tidak perlu ragu.

Lakukan yang kamu mau. Hidup ini tentang kamu.Menjadi Parttimer

Tinggal diperantauan memiliki kesan tersendiri. Kegelisan dan kesenangan berdiri sama rata tanpa ada pemisah jarak. Saking dekatnya jarak antara keduannya, mood senang dan gelisah campur aduk ga karuan. Ga percaya? Bekali dirimu dengan segepok uang yang tidak lebih dari sejuta lalu berkelana dan tinggallah menetap disatu kota, kamu akan menyadari betapa kebebasan tanpa kontrol dari orangtua bisa jadi bencana bagi pengelolaan segepok uang yang kamu punya. Bagi sebagian orang bisa jadi bukan soal, tapi bagi saya… itu masalah besaarr. Ditambah lagi saya punya hobi memasak yang membutuhkan dana yang cukup menguras kantong celana.

Tidak ada jalan lain, paling tidak saya harus bisa menghasilkan uang meski tidak banyak, lumayan untuk menambal beragam ambisi yang sebelumnya tertunda seperti membeli peralatan masak dan bahan masakan misalnya. Tapi, untuk mencari jenis pekerjaan part-time yang tepat cukup merepotkan di Malang. Walaupun kini kotanya sudah sangat berkembang pesat, namun kesempatan yang diberikan manajemen perusahaan baik kecil maupun besar bagi para part-timer belum sebanyak kota metropolitan lainnya. Tidak bisa dipungkiri memang, saya sedikit picky dalam urusan ini, karena pada saat itu saya merasa memiliki skills yang cukup untuk menjalankan program design graphics, photography dan manajemen social media, sehingga cukup lama bagi saya dalam mencari pekerjaan yang saya mau tersebut. Umumnya banyak perusahaan dengan job yang saya inginkan menawarkan gaji yang setimpal dengan syarat saya harus berkerja full-time seperti karyawan lainnya, dan tentu saja saya tidak dapat menyanggupinya lantaran masih menjalani aktivitas kuliah dan sedang berusaha menyelesaikan laporan praktik kerja nyata. Disisi lain saya mengakui bahwa proses pencarian ini hanya terbatas pada media sosial dan saya hanya melibatkan media sosial Instagram dengan akun @lokermalang. Agak kurang kreatif memang.

Setelah beberapa lama, saya masih belum menemukan job yang memungkinkan saya mengasah skill yang sudah saya punya. Hal hasil saya memilih mencari aman dan cepat, dan pekerjaan sebagai cook helper menjadi sasaran saya berikutnya. Jenis pekerjaan ini cukup banyak tersedia di Malang, mengingat banyak sekali cafe-cafe unik nan memenuhi standar “instagramable” bermunculan. Dan pilihan saya jatuh pada sebuah cafe bergaya industrial di kawasan Jl. Sukarno-Hatta (Suhat) dengan mengandalkan menu camilan risolnya sebagai panganan utama. Saya sempat berkonsultasi tentang ini dengan seseorang yang dekat dengan saya, dan dia justru mengatakan “aku malah akan kecewa kalau kali ini kamu ga coba beneran. Mending langsung taruh CV-nya aja sekarang”. Jujur kalimat itu sangat memotivasi, jangan hanya karena ragu membuat saya benar benar menyerah sebelum bersungguh sungguh melangkah. Dengan membulatkan tekad, saya segera menaruh CV yang memang sebelumnya sudah saya siapkan untuk keperluan seperti ini.

Selang tiga hari, nomor telephone saya dihubungi oleh pihak cafe yang meminta saya untuk melakukan interview keesokan harinya. Berbekal pengalaman interview saat internship program membuat saya jauh lebih percaya diri. Hal ini membuat saya diterima bekerja part-time di cafe tersebut sekaligus ditunjuk sebagai team leader part-timer. Namun terdapat sedikit kekecewaan karena posisi cook helper sudah penuh sehingga saya dialihkan di posisi waitress. Ada satu gagasan dalam pikiran saya saat mendengar posisi ini, mungkin ini waktunya saya untuk mempelajari seluk belum bisnis resto dan cafe melalui berbagai sudut pandang, dan sejujurnya kadang saya penasaran seperti apa rasanya menyajikan makanan ke orang lain sekaligus menjaga image resto atau cafe tetap baik melalui service yang diberikan.

Selain gaji (yang tidak banyak), saya akan mendapatkan makan dalam 5 jam bekerja dan antar jemput jika memang mengharuskan. Cukup menggunakan kaus atau kemeja berwarna gelap yang kemudian disempurnakan dengan apron denim dari cafe saya dapat memulai perkejaan disetiap harinya. Awalnya saya pikir menjadi waitress tidak terlalu sulit, cukup membawa pesanan dari kitchen ke customer. Namun, perkiraan saya berantakkan sejak pertama kali saya bekerja diposisi ini. Berikut, beberapa pengalaman yang dapat saya rangkum selama menjadi waitress part-timer;

  1. Harus pandai berbicara dan menghapal menu serta komposisinya. Jelas saja hal ini menjadi fokus pertama saya karena akan banyak sekali customer yang akan bertanya apa saja menu pilihan, menu favorite, rekomendasi, isi dalam menu yang mereka pilih dan rasanya. Saya sangat suka menjelaskan hal ini kepada customer, karena saya sendiri sangat kesal saat saya memesan makanan di cafe dengan bertanya terlebih dahulu kepada waitress-nya, namun hanya menerima jawaban seperti, “tergantung selera sih ka, semuanya enak..”. Maka dari itu, menurut saya pandai berbicara sekaligus menjelaskan perihal menu pada customer merupakan modal awal agar lebih percaya diri dalam bekerja, dan tentunya harus diawali dengan menghapal, lebih baik lagi jika memiliki kesempatan untuk benar-benar mencicipi dan membuat menu tersebut.
    P_20161109_180330
    menu utama, berupa risol aneka rasa

    P_20161121_143129
    salah satu favorit, pancake saus coklat tabur keju
  2. Memantau betul pesanan, dari struk kasir sampai ke kitchen. Dalam hal ini, biasanya kasir akan membantu waitress dalam merapikan struk pesanan dan mengelola pesanan agar makanan dan minuman sampai pada customer dengan struk pesanan yang tepat. Sederhana sebenarnya, namun akan berubah kacau saat cafe sedang over crowded. Untuk mengatisipasi hal ini, saya biasanya memberikan instruksi pada waitress yang lain untuk memegang tanggung jawab pada masing masing pesanan. Hal ini dilakukan agar tidak banyak terjadi crush antar waitress yang akan mengantarkan menu tersebut kepada customer. Hal ini cukup efektif, karena biasanya waitress akan lebih leluasa memantau pesanan menu customer dari kitchen, check list struk dan lain sebagainya.

    P_20161130_210908
    kondisi cafe saat lenggang
  3. Menjadi waitress harus memiliki stamina yang fit selama bekerja serta penampilan yang enak dipandang. Seorang waitress senantiasa bergerak kesana kemari, menghampiri customer, menyajikan pesanan, membersihkan meja, serta membersihkan sampah yang mungkin tercecer. Selain itu pegangan pada nampang juga harus kuat dan stabil agar makanan yang ada pada nampan tetap memiliki tampilan yang baik. Stamina yang kuat juga harus dilengkapi dengan senyum ramah dan penampilan yang kece. Tidak ada satupun pelanggan yang akan senang jika waitress-nya melayani dengan wajah cemberut serta penampilan yang berantakkan, bukan?

    P_20161130_194258
    tampilan waitress saat bekerja, harus rapi dan fit
  4. Bekerjasama dengan baik. Kerjasama atau team work sangat amat penting, selain untuk meningkatkan kualitas pelayanan, hal ini juga akan membawa atmosfir yang baik pada tim dan cafe tersebut. Kerjasama juga harus dilakukan dengan tim lain seperti kasir dan kitchen. Hubungan yang baik antara komponen ini akan amat sangat menyenangkan dan membawa dampak baik dalam pekerjaan, maka tidak heran kadang bonding dalam timm baik di perushaan kecil maupun besar amat diperlukan.
    P_20161130_200551
    tidak jarang waitress diminta untuk membantu memasak hidangan di small kitchen (berdekatan dengan customer)

    P_20161130_210929
    small kitchen
  5. Siap menghadapi complaint. Seorang waitress akan menjadi sosok pertama yang akan menerima keluhan dari customer, maka dari itu management complaining dalam hal ini amat diperlukan. Biasanya keluhan ditujukan pada makanan yang tidak sesuai harapan, keterlambatan penyajian dan tidak aktifnya beberapa layanan seperti wifi misalnya. Saat menerima keluhan, waitress diharuskan memiliki sikap “menerima” sehingga perkara tidak berlanjut dan kemudian mengkordinasikan keluhan tersebut kepada tim untuk segera diselesaikan dan jika memungkinkan manajer akan langsung turun tangan untuk mencarikan solusi. Untung saja, pihak cafe tempat saya bekerja memberikan kompensasi terhadap setiap keluhan, minimal memberikan ice cream untuk sekedar mencairkan suasana.

Pengalaman di atas membuat saya memahami sulitnya sebuah pekerjaan dan tentu tidak ada satupun pekerjaan yang mudah. Meskipun pengalam saya tidak lama (hanya sekitar satu bulan) namun sudah cukup berkesan, setidaknya hal ini juga membuat saya merubah perilaku saya saat sedang menjadi customer. Seperti misalnya merapikan sendiri meja dan menumpuk piring yang sudah saya gunakan dan menjaga kebersihan saat sedang makan. Paling tidak hal ini membuat pekerjaan sang waitress menjadi lebih mudah dan bahkan bisa jadi membuat diri mereka merasa dihargai.

P_20161121_143515
menu hidangan pilihan “chicken gangnam”
P_20161113_191623
suasana cafe di rooftop

 

Sebetulnya akhir akhir ini saya berpikir untuk kembali mencari pekerjaan part-time. Namun bayang-bayang skripsi yang belum juga saya kerjakan justru lebih mengkhawatirkan dibandingkan apapun. Seperti cabe yang terselip digigi, tidak nyaman rasanya jika tidak segera gosok gigi. Namun saya yakin tidak perlu terburu-buru, seperti saat ini, cukup menikmati waktu luang di akhir pekan dengan bercerita pada semua orang.

See you next weekend

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *